The Science of Getting Rich

Penasaran sama buku legendaris yang menjadi dasar buku The Secret? Yuk kesini..

 

Kali ini gue iseng mau bahas soal buku yang baru aja gue baca yaitu The Science of Getting Rich karya Wallace Wattles. Menurut hasil googling yang gue lakuin sebelom nulis ini, sang penulis tersebut merupakan figur terkenal di zamannya karena buku – buku pengembangan diri yang dia ciptakan mampu menginspirasi banyak orang.

 

Alasan gue sendiri untuk kemudian baca buku The Science of Getting Rich sebetulnya bukan karena profil penulisnya tapi karena gue baru aja ikut seminar The Vibration Game yang diadakan oleh seorang trainer bernama Arif Rahutomo yang juga penulis buku ini. Setelah gue ikut seminar ini, sang trainer kasih gue flash disk. Salah satu isi folder yang ada di dalem flash disk tersebut yaitu terdapat audio book tentang The Science of Getting Rich ini.

 

Gue sendiri ngga dengerin audio book The Science of Getting Rich tapi gue cari e-book versi bahasa Indonesia. E-book ini ngga tebel, kurang dari dua ratus halaman, jadi bisa abis dalam sekali baca. Nah, biar ngga lupa gue mau sekalian review sambil jadiin catetan pribadi di blog.

 

Awal gue baca buku The Science of Getting Rich, gue merasa sangat tertarik dengan buku ini karena menyinggung tentang “bahan dasar” yang ada di alam semesta. Dimana si penulis percaya bahwa bahan dasar ini punya sifat berkelimpahan dan sebetulnya mengalir di dalam diri kita secara default, sehingga kita hanya perlu mengaktifkannya aja.

 

Tapi entah kenapa, di pertengahan buku ini gue merasa bosan banget baca buku..hehe. Gue pribadi merasa buku ini ngga to the point gitu, cuma mengulang – ngulang kata – kata estetis aja. Gue baru merasa semangat lagi pas baca buku ini bagian akhir – akhir buku karena mulai to the point.

 

Setelah gue baca buku ini sampai habis, ada beberapa hal yang gue merasa setuju dengan apa yang ada di dalem buku ini. Hal pertama yang gue setuju dari buku ini yaitu anjuran untuk terus berhubungan harmonis dengan “bahan dasar atau sumber asal” di semesta ini agar kita diizinkan untuk menjadi cara-Nya dalam mengekspresikan pertumbuhan atau kemajuan di dalam kehidupan ini.

 

Gue setuju sama pendapat penulis di atas karena mau bagaimana lagi kan, karena semua keajaiban dan kecerdasan sumbernya dari Tuhan, jadi kalau mau bertumbuh ya harus terhubung terus kan sama Tuhan. Ini gambaran paling ideal sih, tapi setidaknya meskipun belum mampu kayak gini, tapi setidaknya masih ada ingetnyalah ya..hehe.

 

Hal kedua yang gue setuju yaitu memberikan nilai yang lebih dan bermakna untuk setiap relasi yang kita lakukan dalam hidup. Hal ini bisa diaplikan untuk relasi di dalam pekerjaan, relasi pertemanan biasa, dan relasi dalam bentuk yang lainnya.

 

Contoh paling sederhanya untuk opini di atas yaitu misalnya job description seorang driver online adalah mengantar penumpang sampai ke tujuan, tapi driver yang baik akan dengan ringan tangan untuk membantu menaikkan dan menurunkan barang penumpangnya.

 

Tentunya menurut si penulis, hal ini dilakukan bukan sekedar agar mendapatkan keuntungan komersil atau keuntungan jangka pendek aja, tapi niatnya yaitu untuk mendapatkan peningkatan level kesadaran diri pribadi (rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Tuhan untuk memberikan nilai lebih di kehidupan orang lain dan pekerjaan sebagai sumber penghidupan).

 

Hal ketiga yaitu rasa syukur yang ditekankan oleh si penulis sebagai rasa yang harus dimiliki dalam menjalankan keseharian kalau ingin sukses. Gue setuju, karena rasa syukur setidaknya bisa membuat beban hidup menjadi lebih ringan dan biasanya kalo gue perhatiin kehidupan orang lain yang gampang bersyukur, kebetulan – kebetulan yang menyenangkan itu biasanya banyak dateng ke kehidupan orang yang seperti ini.

 

Sekarang gue mau nulis tentang hal – hal yang gue ngga setuju sama penulisnya yaitu penulis bilang kalo berdoa ngga perlu setiap hari, yang penting kita selalu ingat atau terkoneksi dengan impian kita. Kalo menurut gue pribadi, gue kurang setuju sama hal ini. Alesannya kalo impian diinget – inget terus takutnya malah jadi terlalu melekat sama impian atau terlalu jadi nafsu. Dimana hal ini malah biasanya menjauhkan kita dari apa yang kita mau karena jadi terlalu ngotot.

 

Jadi untuk opini di atas, gue lebih setuju supaya ada di tengah – tengah aja, oke perasaan mau sama impian itu boleh – boleh aja, tapi ada dibarengin juga sama perasaan berserah biar ngga jatuh di feel melekat tapi tetep ada di feel memberdayakan diri.

 

Hal kedua dari opini penulis yang gue ngga setuju yaitu tentang kita ngga boleh merasa cemas atau takut dalam menjalani hidup. Menurut gue, perasaan ini kalau dalam kadar yang pas bisa memberdayakan alias membuat kita jadi waspada. Rasa waspada ini yang kemudian membuat kita mencari solusi kreatif untuk menyelesaikan permasalahan.

 

Hal ketiga yang gue ngga setuju yaitu opini penulis tentang kita harus beralih dari pemikiran yang kompetitif menjadi pemikiran yang kreatif. Gue ngga setuju karena menurut gue pribadi pemikiran kompetitif pun perlu untuk dimiliki selama kompetitif dalam koridor yang sehat, bukan yang negatif.

 

Contoh sederhana yaitu dalam case pemasaran. Untuk menang dalam memasarkan suatu brand, kita perlu untuk kenal siapa kompetitor kita dan mempelajari kompetitor. Berangkat dari hal tersebutlah kita punya kesempatan untuk menciptakan unique selling proposition kita sendiri sehingga brand kita mendapatkan peluang untuk memenangkan pasar, memberikan nilai lebih kepada konsumen, dan mendatangkan kesuksesan untuk pemilik brand.

 

Sedangkan kompetitif dalam koridor yang negatif, gue setuju kalo hal ini adalah yang tidak perlu dimiliki karena dalam praktiknya pasti banyak hal – hal yang harus dilanggar atau menyakiti orang lain. Ini kayaknya udah jelas banget, jadi kayaknya ngga perlu contoh ya..hehe.

 

Hal keempat yang gue ngga setuju dari penulis yaitu penulis menganggap beramal merupakan hal yang sia – sia karena hanya membuat orang tetap miskin karena terlena sehingga hal ini tidak memberdayakan. Gue kurang setuju dengan hal ini, selama beramalnya dilakukan dalam bentuk memberikan biaya kepada orang yang tepat agar orang tersebut mendapatkan pendidikan yang bermutu, menurut gue justru hal tersebut bisa digunakan untuk menjadi salah satu cara untuk orang tersebut memperoleh kehidupan yang lebih baik.

 

Dalam opini di atas, menurut gue penulis terlalu sempit memandang bahwa sedekah hanya dalam bentuk “umpan”, padahal sedekah juga bisa diberikan dalam bentuk “kail”. Dimana kail ini dapat dilakukan untuk memutus mata rantai dari kehidupan yang tidak memberdayakan.

 

Nah, itu tadi opini gue tentang buku ini. Setelah gue baca buku ini gue merasa buku ini adalah salah satu referensi yang dipakai oleh si trainer yang seminarnya gue ikutin itu, tapi si trainer ngga bener – bener plek ketiplek mengadopsi buah pikir dari si penulis ini.

 

Alasannya dari kesimpulan gue ini adalah karena di seminar tersebut hal yang lebih dipertegas adalah tentang kesadaran diri yang sebaiknya lebih banyak ada di level power. Kesadaran diri di level force dalam kadar yang pas ada gunanya tetapi tidak boleh berlebihan karena malah akan menarik hal – hal negatif untuk datang kepada kita.

 

Masih bingung kenapa si trainer yang ngga plek ketiplek mengadopsi buah pikir di buku ini tapi menyertakannnya dalam flash disk? Contohnya begini: memberikan nilai lebih kepada orang lain adalah salah satu hal yang diajarkan oleh si trainer. Alasannya perilaku ini pastinya dilandasi atas sikap bersyukur dan welas asih, dimana bagi si pelaku saat melakukan hal tersebut level kesadarannya ada di level power yang berpotensi menarik hal – hal baik kepadanya.

 

Tapi di seminar itu juga, si trainer menegaskan bahwa terkadang kita perlu untuk ada di level force tapi dalam kadar dan intensi yang pas, karena segala hal diciptakan oleh Tuhan berpasangan dan tentunya pasti ada manfaatnya.

 

Sekian review singkat tentang buku jadoel ini, mudah – mudahan bermanfaat 😊

 

Kalau kamu, apa opini kamu tentang buku legend ini?

Instagram

Tagged : / / /

Kitab Ilmu Vibrasi: Manusia, Tuhan dan Alam Semesta

Penasaran sama konsep pemberdayaan diri yang berlandaskan fisika kuantum? Yuk kesini..

 

Kali ini gue mau cerita tentang buku yang pernah gue baca yaitu buku berjudul Kitab Ilmu Vibrasi: Manusia, Tuhan, dan Alam Semesta karya Arif Rahutomo yang merupakan seorang trainer ilmu vibrasi. Sebenernya banyak buku yang menurut gue ngasih input yang bagus ke gue, tapi sekarang ini gue lagi mood-nya pengen ceritain buku ini.

 

Apa yang gue rasain setelah baca buku ini?

 

Gue suka buku Kitab Ilmu Vibrasi: Manusia, Tuhan, dan Alam Semesta ini karena bagi gue pribadi, buku ini cukup mind blowing. Buku ini menyadarkan gue bahwa buat ngedapetin apa yang seseorang inginkan bukan cuma sekedar berkutat tentang harus seberapa banyak gen kepintaran yang dimiliki, harus sebanyak apa hard skill keren yang dipunya, seluas apa koneksi yang ada, atau sebanyak apa kandungan gizi dari makanan yang kita kosumsi. Bukan berarti hal – hal yang tadi gue sebut di awal itu ga penting, tapi ternyata ada hal lain yang juga ngga kalah penting buat dipahamin dan dilakuin.

 

Buku ini menyadarkan gue kalo semesta ini punya aturan main yang mesti dipahami dan dilakuin, jadi semisalkan pintar karena punya banyak hard skill tapi kalau menyalahi aturan main semesta ini, ga mustahil kalau hasil yang dicapai ngga memuaskan atau mungkin gagal malah. Analogi sederhananya kayak striker di pertandingan bola yang jagoan banget buat urusan nyetak gol tapi kalo si striker itu kemudian malah iseng nyentuh bola di tengah – tengah pertandingan sepakbola, hasilnya bisa ditebak yaitu ga perduli seberapa hebatnya dia, pasti bakal dapat kartu kuning atau bahkan kartu merah dari wasit alias dikeluarin dari arena pertandingan.

 

Continue reading “Kitab Ilmu Vibrasi: Manusia, Tuhan dan Alam Semesta”

Tagged : / / / /

Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Banyaknya penggelembungan fakta, bikin auto mumet. Disini Mark Manson kasih rahasia tetap waras dan sukses meski hidup di dunia tipu – tipu..

 

Buku yang kali ini mau gue review yaitu buku berjudul Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Buku ini ditulis oleh Mark Manson yaitu seorang blogger kenamaan yang tinggal di New York. Buku ini sendiri bisa dikategorikan sebagai buku self-development karena menekankan skill tentang gimana caranya menyiasati kehidupan dengan keterampilan tertentu sehingga mampu memperoleh kepuasan dan kebahagiaan hidup yang sejati.

 

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Gue memutuskan untuk baca buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat ini didorong rasa penasaran karena gue melihat tingginya minat pasar sama buku ini dan juga buat membuktikan perkataan teman gue yang pernah bilang kalo di dalam hidup ini sikap dan perilaku bodo amat itu perlu buat diterapin. Bodo amat yang gimana sih yang ‘sehat’ buat diterapin?

 

Continue reading “Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”

Tagged : / / / /

Buku Sekali Action Langsung Eksis

Mau ubah kerisauan jadi ladang cuan dan amal?Yuk baca resensi buku ini..

 

Buku yang kali ini mau gue posting judulnya yaitu Sekali Action Langsung Eksis karya Awal Syaddad. Sekilas tentang penulisnya yah, Awal Syaddad adalah seorang CEO dan Founder dari Kaaffah Learning Centre (institusi bimbingan belajar berbasis Agama Islam). Buku ini bisa dikategorikan sebagai buku pengembangan diri karena di dalamnya sang penulis menuturkan rahasia gimana dirinya memulai dari nol sampai akhirnya bisa menjalankan bisnisnya tersebut.

 

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Hal pertama yang membuat gue tertarik buat baca buku Sekali Action Langsung Eksis karena ‘janji’yang ditulis di cover belakang buku ini yaitu buku ini bisa kasih rahasia gimana caranya mengelola kegalauan menjadi uang dan menjadikan bisnis sebagai ladang amal. Gue pikir ini hal yang menarik yah karena rahasia bisnis yang ada di buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya si penulis itu sendiri. Gue percaya bahwa perjalanan mencapai goal diantara tiap orang pasti beda – beda, dan hal ini bisa memperkaya wawasan. Kemudian tentang amal juga menarik buat gue karena menurut gue penulisnya visioner.

 

Continue reading “Buku Sekali Action Langsung Eksis”

Tagged : / / / /

Buku Filosofi Teras

Ada formula menuju kebahagiaan yang realistis dan sederhana di Filsafat Teras, yuk mampir..

 

Buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring adalah buku berikutnya yang ingin gue ulas. Buku ini adalah “pengantar filosofi” yang baru aja gue baca. Istilah pengantar filosofi ini adalah karangan gue sendiri ya..hehe. Kenapa gue iseng banget menciptakan istilah ini, karena penulisnya yaitu Henry Manampiring berulang-ulang di dalam buku ini menegaskan bahwa dirinya sadar bahwa selaku penulis buku filosofi, dia bukanlah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang filosofi. Buku ini ditulisnya sekedar berbagi pengalaman hidup bahwa dia udah menemukan solusi kehidupan di dalam Filosofi Teras. Penulis mengganggap buku ini adalah appetizer bagi pembaca yang tertarik dengan Filosofi Teras.

 

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Alasannya adalah karena ‘curhat’ yang ditulis sama salah satu pengguna media sosial Quora. Si pengguna media sosial Quora ini bercerita kalo buku yang sangat membantu dia untuk tetap kalem di tengah – tengah perlakuan negatif yang dia terima adalah karena dia mempraktekkan apa yang diajarkan di dalam Filosofi Stoa. Kata-kata yang begitu menempel di benak gue adalah ketika dia menjelaskan bahwa kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan. Sebagai contoh dia mengatakan bahwa apa-apa yang ditunjukkan di media sosial seperti Facebook atau Instagram boleh jadi adalah kesenangan namun belum tentu kebahagiaan. Dan masih banyak contoh lainnya, tetapi itu yang paling gue inget. Singkatnya, dia merekomendasikan buku Filosofi Teras bagi siapapun yang tertarik mempelajari Filosofi Stoa. di kemudian hari, gue baru tahu kalo buku ini pada tahun 2019 meraih penghargaan Book of The Year yang diberikan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

 

Continue reading “Buku Filosofi Teras”

Tagged : / / / / / / /

Buku Aircraft in You

Mau tahu apa aja filosofi pemberdayaan diri dibalik mekanisme pesawat terbang? Yuk ada di sini..

 

Buku yang kali ini mau gue bahas adalah buku berjudul Aircraft in You yang merupakan karya Soesanto Goentoro yang merupakan seorang pengusaha di biro perjalanan, hipnoterapis, grafologi, fotografer, dan penggemar aeromodelling.

 

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Faktor yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku Aircraft in You adalah karena buku ini menjadikan pesawat komersil sebagai metafora bagi siapa aja yang tertarik dengan dunia pemberdayaan diri atau dengan kata lain dari sebuah pesawat kita bisa mengambil pelajaran atau suatu filosofi tertentu agar dapat menata kehidupan. Meskipun gue pribadi jarang menggunakan pesawat kalo lagi travelling, tapi tentunya gue pikir pesawat adalah salah satu alat transportasi yang ngga asing di telinga siapapapun apalagi buat mereka yang suka travelling. Oia, buku ini juga banyak dapat testimoni positif dari orang – orang yang cukup terkenal di Indonesia seperti Andy F. Noya, Andrie Wongso, James Gwee, dan lain – lain.

 

Continue reading “Buku Aircraft in You”

Tagged : / / / / / / /

Buku Being Less Sensitive Person

Ngerasa gampang baper, terharu, atau cepet paham sama modus orang lain? Yuk, coba cek apa kamu si manusia langka yang masuk ke dalam kategori Highly Sensitive Person

 

 

Kali ini gue balik lagi mau bahas tentang buku, yaitu sebuah buku yang berjudul Being Less Sensitive Person yang ditulis oleh seorang sarjana sains yang juga pengelola media digital bernama Restianingrum, yuk tanpa banyak basa basi langsung aja yah.

 

Apa yang membuat gue memutuskan buat baca buku ini?

 

Hal yang membuat gue memutuskan buat baca buku yang berjudul Being Less Sensitive Person karya Restianingrum ini adalah karena menurut gue saat ini kata baper udah menjadi hal lumrah yang sering diucapin di pergaulan sehari-hari. Baper secara singkat kurang lebih artinya terlalu dibawa ke perasaan atau diambil hati. Oia, bahkan gue pernah liat beberapa status orang lain yang mengeluh kalo saat ini kata baper seringkali dijadiin pembenaran buat mengejek orang lain. Terlepas dari setuju atau ngga setuju tentang hal ini, beberapa waktu yang lalu gue ketemu sama buku yang berjudul Being Less Sensitive Person dan menurut gue buku ini sepertinya relate dengan fenomena saat ini yaitu populernya penggunaan kata baper di pergaulan sehari-hari.

 

Continue reading “Buku Being Less Sensitive Person”

Tagged : / / / / / / /
error: Content is protected !!
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram