Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan

https://estalinafebiola.com/prof-brontosaurus-dokter-hewan/

Mau tahu tingkah gemoy hewan – hewan yang dateng ke ruang periksa dari perspektif dokter hewan sekaligus mantan dekan di Universitas Gadjah Mada? Yuk kesini..

 

Balik lagi ke kebiasaan lama, kali ini gue mau ngomongin soal buku yang baru aja gue baca yaitu buku yang judulnya Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan. Alesan gue kenapa mau baca dan bahas buku ini adalah karena gue penasaran aja kira – kira hal unik apa aja sih yang pernah dialamin sama dokter hewan. Gue kepo sama hal ini karena sejauh pengamatan gue kalo lagi dateng ke klinik (dokter hewan), gue lihat perilaku atau kepribadian hewan – hewan saat dateng ke klinik dokter hewan pada unik – unik.

 

Buku Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan ini ditulis oleh Profesor Subronto (dokter Subronto) yang ternyata pernah menjabat sebagai seorang dekan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Jadi tanpa pikir panjang langsung aja gue baca buku ini.

 

Buku Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan ini ngga tebel – tebel amat, kurang lebih sekitar hampir 150-an halaman. Jadi kalo dibaca sekitar dua hari kayaknya cukup buat selesaiin. Buku ini terbagi jadi dua bagian yaitu bagian pertama cerita tentang pengalaman dokter Subronto saat praktik jadi dokter hewan dan bagian kedua pengalamannya saat menempuh pendidikan doktoral di Amerika Serikat.

 

Sehat Mental Bareng Hewan Peliharaan

 

Kesan gue setelah baca buku Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan ini adalah pengalaman si dokter bervariasi yaitu ada bagian yang menurut gue adalah pengalaman yang sedih, tidak terduga, berkesan, dan pengetahun tentang herbal yang seringkali dipakai oleh si dokter saat praktek.

 

Ada beberapa cerita yang mengisahkan kalo dokter Subronto beberapa kali memakai ramuan herbal saat mengobati pasiennya. Salah satu cerita tersebut yaitu dimana dokter memakai daun dadap srep untuk mengobati sapi yang mengalami pembengkakan di daerah kulit bekas suntikan. Pembengkakan ini terjadi karena koasisten yang ditugasi untuk menyuntik cairan kalk kepada sapi tersebut lupa bahwa setelah disuntik, area kulit di tempat bekas penyuntikan tersebut harus dipijat.

 

Singkatnya, karena pertimbangan bahwa dokter Subronto tidak ingin memberikan salep ichthyol yang dicampur kamfer kepada sapi karena alasan khawatir terjadi komplikasi medis, maka dia memutuskan untuk memberikan dadap srep pada kulit sapi yang membengkak. Hasilnya dalam waktu 10 hari bengkak pada sapi telah hilang sebagaimana yang diinformasikan pemilik sapi kepada dokter Subronto.

 

Masih ada beberapa cerita lagi tentang dokter Subronto yang kerap memakai jenis ramuan herbal lainnya (selain dadap srep) dalam mengobati pasiennya. Buat yang penasaran, bisa langsung lihat sendiri aja ya di bukunya..hehe. Jadi intinya, di buku ini secara tersurat dokter Subronto mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap ramuan herbal dan jamu karena terbukti seringkali membantunya saat sedang praktik.

 

Pengalaman kedua adalah pengalaman yang tidak terduga yaitu dimana dokter menemukan adanya anjing (yang menjadi pasiennya) yang ternyata mengidap virilisme. Virilisme adalah keadaan kelainan alat kelamin yaitu dimana dari luar nampak seperti jantan namun di dalam ternyata betina.

 

Awalnya pemilik anjing datang kepada dokter mengeluhkan bahwa anjing tersebut saat buang air kecil berdarah, namun lama – kelamaan malah sulit buang air kecil sehingga perutnya tampak membesar. Singkatnya, dokter Subronto melakukan tindakan operasi pada anjing tersebut.

 

Saat perut anjing tersebut dibuka, kemudian dokter Subronto melakukan pengosongan pada kandung kemihnya. Saat kandung kemih telah dikosongkan, baru terlihat di bawah kandung kemih tersebut terdapat uterus dan vagina. Tindakan dokter Subronto selanjutnya yaitu melakukan pemotongan dan pengikatan pada vagina dan uterus. Setelah selesai, dinding perut anjing tersebut dijahit kembali sebagai tanda bahwa tindakan operasi telah selesai dilakukan.

 

Setelah kasus ini, dokter Subronto juga menerima pasien berupa anjing lainnya yang mengalami hal yang serupa. Setelah diselidiki, ternyata anjing ini berasal dari pembiak yang sama dengan anjing pada kasus yang pertama. Dokter Subronto kemudian menyarankan kepada pembiak agar betina yang menjadi ibu dari anjing – anjing tersebut agar dikawinkan dengan anjing jantan yang lainnya atau lebih baik tidak dikawinkan lagi untuk mencegah terulangnya kasus serupa.

 

Pengalaman dokter Subronto yang menurut gue tidak terduga lainnya (selain kasus anjing yang mengidap virilisme), masih ada beberapa lagi yang bener – bener berbeda (bukan virilisme lagi). Nah, kalo penasaran bisa langsung baca aja ya bukunya si dokter..hehe.

 

Pengalaman selanjutnya yang menurut gue masuk ke dalam kategori sedih yaitu saat dokter mau membantu seekor anjing yang ingin melahirkan. Dokter Subronto berencana melakukan tindakan operasi caesar kepada anjing yang sudah kepayahan untuk melahirkan (kepala janin anak anjing sudah berada di luar) tersebut.

 

Sedihnya, saat persiapan operasi tersebut sudah dilakukan malah terjadi mati listrik di tempat dokter berpraktek karena pada saat itu masih seringkali diberlakukan pemadaman listrik bergiliran (oglangan). Tidak adanya genset dan petromaks untuk membantu pencahayaan pada saat operasi serta tidak memungkinkannya penundaan operasi, maka hanya dengan bantuan lampu sepeda motor yang ada, dokter terpaksa memotong leher janin anak anjing untuk menyelamatkan induk anjing.

 

Singkatnya, induk anjing selamat namun saat anjing tersebut sadar si anjing tidak tahu kalau anaknya sudah mati sehingga seringkali si anjing bertindak agresif untuk melindung anaknya karena mengira bahwa anaknya tersebut masih hidup. Pemilik anjing kemudian diminta datang agar bisa menenangkan induk anjing tersebut.

 

Masih ada beberapa cerita lainnya yang menurut gue sedih selain cerita anak anjing yang terpaksa harus dibunuh tersebut. Ceritanya di luar dugaan sih menurut gue, jadi buat yang penasaran bisa langsung intip bukunya yah.

 

Sebagai seorang praktisi dan ilmuwan tentunya akan senang kalau hasil kerjanya bisa dimuat di jurnal atau majalah science di luar negeri karena bisa bermanfaat untuk orang banyak sehingga tidak mengalami hal yang pernah dia alami. Begitu pun dengan dokter Subronto, dirinya pun mengaku senang karena beberapa hasil kerjanya pernah diminta untuk diterbitkan di majalah luar negeri (berkesan). Salah satunya adalah kasus tentang kuda – kuda yang keracunan.

 

Singkatnya, kuda – kuda ini adalah milik penarik delman. Sang pemilik seringkali membawa kuda – kudanya tersebut untuk bekerja dan beristirahat di tempat pandai besi. Di tempat ini biasanya si pemilik seringkali menggunakan ember yang tidak terpakai untuk kemudian mengisinya dengan air dari sumur. Air sumur yang sudah berada di ember tersebut, biasanya dia berikan kepada kuda – kudanya untuk diminum.

 

Nahasnya, di suatu pagi, pemilik delman yang berniat memberi minum kepada kuda – kuda tersebut melihat ada ember yang masih berisi air. Tanpa pikir panjang, sang pemilik langsung memberikannya kepada kuda – kuda tersebut. Selang lima menit setelah meminum air tersebut, kuda – kuda tersebut langsung kesakitan dan terlihat seperti menari – nari di jalanan.

 

Melihat hal ini, pemilik kuda langsung menemui dokter Subronto. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kuda – kuda ini keracunan kalium sianida. Setelah diselidiki lebih lanjut oleh dokter Subronto, pemilik bercerita bahwa kuda – kuda tersebut kesakitan setelah meminum air dari ember tersebut. Dan benar saja, ternyata air di ember tersebut sebelumnya digunakan oleh pandai besi saat sedang bekerja menyatukan besi – besi.

 

Prosesnya yaitu kedua ujung besi yang akan disatukan tersebut dipanaskan. Setelah panas, kemudian ditaburi racun besi (mengandung kalium sianida) sehingga siap disambungkan. Besi yang sudah disambungkan lalu dicelupkan ke dalam air yang berada di ember. Entah kenapa, setelah melakukan pekerjaannya tersebut, tidak seperti biasanya si pandai besi lupa untuk membuang air yang berada di dalam ember.

 

Kasus ini kemudian diangkat oleh dokter Subronto ke dalam majalah kedokteran hewan di Amerika Serikat dengan judul Cyanide Poisoning in Horses. Setelah kasus ini dipublikasikan, datang puluhan permintaan kepada dokter Subronto untuk melakukan cetak ulang kepada penerbit lainnya di Amerika Serikat, Jepang, Israel, Rusia, dan Polandia.

 

Masih ada cerita lainnya yang berkesan hingga sampai mendapat kesempatan publikasi pada majalah kedokteran hewan lainnya di Amerika Serikat dan penemuan – penemuan untuk kasus sindrom penyakit pada hewan yang bahkan sempat dipresentasikan oleh penulis di depan presiden Suharto.

 

Bagian kedua pada buku ini menurut gue berguna buat yang mau pelajarin pathways atau persiapan apa aja buat yang mau belajar di luar negeri khususnya untuk mengambil program doktoral di Amerika Serikat. Lengkap banget sampe kira – kira ada dua puluh tiga halaman..hehe.

 

Membaca buku ini terasa kayak lagi baca buku semi pop (semi populer) yaitu karena meskipun penulis udah berusaha memberikan judul buku dengan kalimat yang lucu (Brontosaurus) dan gaya penceritaan yang santai tapi karena bertebarannya banyak istilah ilmiah (istilah kedokteran) dimana – mana (kalo mau tahu artinya harus lihat glosarium yang ada di halaman paling belakang), menurut gue tetep terkesan kayak lagi baca buku semi pop.

 

Sebagai penutup, setelah baca semua pengalaman dokter Subronto di buku ini, makin terbukti bahwa hal yang terjadi pada hewan – hewan itu unik – unik. Makanya ngga heran pemilik hewan bersedia meluangkan anggaran supaya hewan peliharaannya senang dan sehat karena sayang banget sama mereka. Bahkan terkadang ada yang sampe konsultasi sama animal communicator kalo ngerasa kurang puas :p

 

Kalo pengalaman berkesan kamu bareng sama hewan peliharaan apa nih? 🙂

 

Instagram

Tagged : / / / / / /

34 thoughts on “Prof. Brontosaurus: Hari – Hari Seorang Dokter Hewan

  1. Menarik ceritanya. Tapi sebetulnya ekspektasi gw isinya juga soal karakter pemilik hewan yg macam2, ada yg panikan, ada yg ikut ngerasain sakitnya si hewan, ternyata bukan ke sana yah

  2. Beberapa tahun terakhir profesi dokter hewan semakin dikenal masyarakat umum. Banyak yang mulai merawat hewan peliharaannya bersama konsultasi dokter hewan.

    Buku ini juga menarik, semakin mengenalkan profesi dokter hewan. Apa yang dikerjakan, seperti apa pola perawatan dokter hewan, dan beberapa pengalaman yang dialami oleh dokter hewan.

    Review buku yang bagus kak feb 🙂

    1. Aku sih seneng liat kucing piaraan ade aku tapi ga sampe seniat itu bawa ke dokter hewan. Beda banget sama adik aku yg sampe di guntingin kukunya, di hair dryer abis mandi, dikasih vitamin, dll. Salut bgt sama yg punya skill untuk bisa care sama hewan kayak gitu.

  3. Mesem mesem saya bacanya Feb, khusus yang cerita anjing tadi “Virilisme”, ternyata ada ya kasus seperti itu dalam dunia hewan, dokternya juga keren, punya pengalaman pengalaman semenarik itu, salut dengan orang orang yang sangat mencintai pekerjaannya, tapi tidak lupa membagi ilmunya dengan orang lain.

  4. Kok sedih sih pas bagian anjing yang melahirkan dan anaknya terpaksa dipotong gitu. Tapi aku pun baru tahu kalau hewan ada yang Virilisme. Buku yang menarik, apalagi buat pecinta hewan ya

  5. wah ini menarik banget, sebagai orang yg kadangkala bawa kucing ke dokter hewan, saya aja sering perhatiin hewan2 yg dibawa ke vet… kadang ada aja kejadian lucu atau nggak biasa…. apalagi dokter yaa….

    aduh kalau ditanya pengalaman berkesan sama peliharaan banyak, pernah loh kucing saya beranak di punggung saya pas saya lagi tidur, lagi enak2 tidur apa nih kok basah 😅

  6. aduh kalau ditanya pengalaman berkesan sama peliharaan banyak, pernah loh kucing saya beranak di punggung saya pas saya lagi tidur, lagi enak2 tidur apa nih kok basah 😅
    buku ini menarik banget, saya aja sering perhatiin hewan2 yg dibawa ke vet… kadang ada aja kejadian lucu atau nggak biasa…. apalagi dokter yaa….

  7. Virilisme, penyakit pada anjing ya Kak? Kasihan juga ya hewan liar yang mungkin juga sakit tapi ga ada yang perhatikan. Apakah mungkin hewan liar yang sakit akan sembuh dengan sendirinya? Kak Febi kayaknya pemerhati hewan. Salut

  8. Bukunya menarik banget. Sebagai seorang yang bukan pecinta hewan peliharaan gua lumayan tertarik dengan isi buku ini. Jujur, sedih juga ya cerita anjing melahirkan dan anaknya harus dipotong 🙁

  9. Hari-hari seorang dokter hewannya prof brontosaurus sepertinya ‘lengkap’ seperti juga praktek dokter pada umumnya. Ada saat getir, mendebarkan, lega maupun kesan yang mendalam. Termasuk tulisan di jurnal medis internasional. Yang mengesankan adalah, beliau menuangkannya dalam sebuah buku yang di review secara menarik oleh kakfeb.
    Oh ya, saat SD saya suka pelihara ayam… Sayang, diracun oleh tetangga jauh yang mengaku terganggu dengan ayam-ayam saya yang main ke rumahnya.. Hiks hiks hiks…

  10. Wah menarik banget isi bukunya. Profesi yang seruuuu bgt, wlpn perlukesabaran & rasa cinta hewan yg besar nih. Coba kalo diupdate lg, pengen deh tau kisah2 serunya. Soalnya skrg udah banyak org2 di Indonesia yg piara hewan & carenessnya semakin meningkat.

  11. Astagah kasian banget kudanya :((

    Tapi beneran deh kita juga harus banget memperhatikan makanan yang kita kasih ke hewan, ga boleh sembarangan

  12. Aku pny kucing di rumah, tapi selama ini setiap si meong sakit dibawa ke klinik hebat selalu dikasih obat kimia. Apa yg dilakukan dokter subronto menurut ku keren, krn mencoba pengobatan herbal ke hewan. Tp dokter hewannya ksh obat kimia mulu.

    1. dokter subronto kadang kasih obat2an kimiawi, kadang juga herbal..
      cuma emang perlu perjuangan kalo mau biar herbal diakuin secara internasional di dunia kedokteran hewan..
      akhirnya pengalamannya ini cuma masuk di buku ini, bukan jurnal ilmiah internasional..

  13. Menarik sekali ya sepertinya buku Brontosaurus itu. Baru tahu jika ada ramuan obat herbal juga untuk hewan.
    Aku sendiri juga punya pet, kucing. Dan pengalaman berkesan yang aku miliki, lebih ke sedih banget sih sebenarnya, waktu miungchi divonis sebagai suspect EGC dengan autoimune. Kisah, perjalanan, cerita, amazing banget untuk aku pelajari.
    Dan lalu ditambah, miungchi yang kemudian ternyata bisa hamil setelah dia kawin. Proses kehamilan yang tidak mudah dilewatin oleh pengidap EGC autoimune, saya menyaksikan sendiri secara langsung setiap perjuangan yang dilalukan miungchi demi bayi2nya.
    Hingga miungchi membuat saya sangat terharu, saat ia melahirkan, menyusui, merawat, menyayangi, melindungi bayi2nya dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab tanpa lelah, rela dan ikhlas juga sabar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram